Selasa, 05 Juni 2012

Pesona Teluk Jailolo




Teluk Jailolo
Teluk Jailolo tentu saja tak dapat dipisahkan dari Jailolo, ibukota kabupaten Halmahera Barat (HalBar). Kabupaten Halmahera Barat ini diresmikan pada tanggal 25 Februari 2003. HalBar  berdiri sebagai wilayah pemerintahan bersama Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Sula Kepulauan dan Kota Tidore Kepulauan. Semua itu adalah hasil pemekaran dari wilayah Maluku Utara. Oleh karena itu Jailolo identik dengan Maluku.

    

Penemu dari Teluk Jailolo adalah Alfonso D’albuqerque  yang merupakan seorang militer Portugis yang memimpin ekspedisi besar mengarungi Asia dari awal abad ke 16. Beliau adalah seorang yang jenius , sehingga dapat mencium sumber daya tinggi yang dimiliki Maluku, salah satunya rempah-rempah.
Teluk Jailolo tidak hanya memiliki rempah-rempah, melainkan memiliki keindahan lainnya. Salah satunya keindahan bawah laut yang dapat memanjakan para pecinta pemandangan bawah laut.  Salah satu lokasi penyelaman adalah “Tanjung Matui”. Laut di Tanjung Matui berlumpur dan berpasir, namun kondisi tersebut tak mengurangi keindahan bawah laut Tanjung Matui. Dikedalaman lebik kurang dua puluh meter, kita dapat menemui electic lamp, spesies unik yang memiliki daya listrik, dan beragam spesies laut lainnya.

Ritual Bersih Laut
Rumah Adat Sasandu
          Selain itu, Teluk Jailolo juga memiliki ritual yang menarik, salah satunya adalah ritual bersih laut. Dalam ritual ini, masyarakat berdoa dengan diiringi belasan kapal mengitari pulau babua. Keunikan lain pun terasa ketika kita melihat "Rumah Adat Sasadu", rumah adat khas masyarakat Jailolo.  Tempat biasa digunakan untuk upacara acara-acara adat dan acara lain yang dianggap penting ataupun sakral dan pernikahan.           Tarian tradisional yang umum dilakukan adalah Tari Legu Salai dan Tari Sara Dabi-Dabi. Tari Sara Dabi-dabi adalah tarian untuk menyambut kedatangan Sultan atau orang-orang yang tertinggi atau dihormati, seperti bupati atau pejabat daerah. Sedangkan Tari Legu Salai mulai ditampiklan dalam pertengahan acara. Makanan-makanan dalam pesta ini pun disajikan dengan unik, yaitu dalam “Piring Antik”, dimana makanan yang diletakan dalam piring tersebut tidak akan pernah basi.

Sekedar mengingatkan kembali penemuan ini, masyarakat Teluk Jailolo mengadakan festival tahunan, yang dikenal dengan sebutan “Festival Teluk Jailolo”.  Pertama kali Festival Teluk Jailolo diadakan tahun 2009 dan masih berlangsung  hingga saat ini. Festival ini menyajikan pameran rempah dan spice trip. Pameran rempah akan menyuguhi Anda dengan berbagai hasil karya masyarakat sekitar, budayaan dan tentu saja rempah-rempah.  Sedangkan spice trip akan membawa Anda untuk menelusuri perkebunan rempah dan menikmati menjadi petani rempah yang merupakan mata pencaharian masyarakat Jailolo. Festival ini selalu ditutup dengan “Cabaret on The Sea”, merupakan pertunjukan kontemporer yang memadukan antara tarian tradisional, musik tradisional, drama dan koreografi yang berbasis kebudayaan masyarakat Jailolo.

            Kenyataan ini pula yang menyadarkan kita bahwa antusiasme orang asing terhadap Indonesia  masih berlangsung hingga saat ini.Antusiasme tersebut ditunjukkan dalam bentuk dokumentasi atau mempelajari kebudayaan Indonesia,terutama Teluk Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara. Oleh karena itu, sebagai bangsa Indonesia wajiblah kita melestarikan kebudayaan Indonesia.